I see my dad
Sits on the couch
Grabs his bag tightly
He seems about to cry
I see my mom
Sits on the edge of the bed
Stares at her cellphone
She seems about to cry
I see my sister
Sits on a chair
Reads her textbook
She seems about to cry
I see myself
Stand before the mirror
Looking at my own reflection
I am about to cry
But the tears ain't falling.
No.
Not today.
Showing posts with label Bilik Puisi. Show all posts
Showing posts with label Bilik Puisi. Show all posts
Sunday, February 1, 2015
Thursday, June 12, 2014
HUJAN PUN TURUN SATU-SATU
Tepi atas. Belum tampak
Pun langit masih cerah
Turun barang satu dua
Lantas awan beriring
Lagi turun. Fokus tengah
Mulai mendung
Cepat terjun. Bawah ujung
Hujan pun turun satu-satu
Malang, 10 Mei 2011
KINCIR YANG BERPUTAR
Karya: Zakiya
Pada biru yang berputar
Tapak kakimu menjejak
Menuju euforia singkatku
Pada hijau yang berputar
Tajam matamu menyelidik
Memaksaku bertumpu pada satu titik itu
Pada kuning yang berputar
Lantang tawamu berderai
Lantas menular padaku
Pada merah yang berputar
Aku tersentak
Separuh riaku tertinggal di sana
Pada kincir yang berputar
Barulah aku sadar
Aku tak menggapai apapun
Jarak membentang rentang
Bagai Tiga dan Sembilan
Malang, 13 Juli 2011
AYAH
Teruntuk Ayah,
puisi ini kubuat sebagai hadiah ulangtahun ke-52 mu.
Semoga kau selalu dalam lindungan Tuhan.
Bongkahan aral menerjang. Terjal
Menutup jalan menuju
Damai kehidupan
Namun kau berdiri tegak. Tetap
Memecah lintang aral
Yang diam menghadang
Demi insan terkasihmu
Kau tangguhkan hidupmu
Malang, 1 Februari 2011
BUIH HATI
Karya: Zakiya
Beribu kata tertahan di benak
Membusuk di dasar palung
Mengerak di dinding hati
Mengertikah kau
Aku ingin meluapkan semuanya
Aku ingin seperti buih dalam panci
Meletup-letup
Memecah gelembung diam
Walau akhirnya teredam
Aku masih bertahan. Di sini
Menyuarakan benak dalam puisi ini
Malang, 19 April 2011
MIMPI
Karya: Zakiya
Di antara sekumpulan orang itu
Aku bergumul sendiri
Dengan pikiran-pikiranku
Menghidupkan mereka dalam kepala
Membuat cerita
Cerita tentangku yang menapaki langit
Ya, langit itu
Langit impianku itu
Tapak demi tapak langkah yang kutiti
Pasti akan membawaku ke sana
Keyakinan itu hidup dalam nyataku
Membuatku semakin ingin
Merealisasikan mimpi itu
Aku percaya aku bisa
Karena aku bukan sebutir debu
Yang selalu ikut bermain dengan angin
Bukan pula butiran pasir
Yang selalu ikut kemanapun air pergi
Malang, 10 November 2012
HITAM
Karya: Zakiya
Hitam itu
Mendekatiku
Megisi kosong dalam hampa
Hitam ini
Memelukku
Dalam hendak fikirku
Hitam di sana
Mencuri terang
Dalam titikku
Hitam di sini
Menertawaiku
Lantang membahana
Aku hilang
Dalam hitam tak berpangkal
Hitam tanpa ujung
Malang, 30 januari 2011
UJIAN
Karya : Zakiya
Siasat perang menggurui batin
Sempurna sepintas
Cacat sepintas
Bergolak dalam kepala. Berontak
Perang tetaplah perang
Silat lidah penolakan hanya lalu
Merajuk merayu layu
Kini lawan tegak menantang. Mengancam
Berdiri angkuh menapak padang
Sumpah serapah mencerca hampa
Sorot tajam menikam
Menatap diri, menumbangkan pertahanan
Siasat jitu berarti sangat kala ini
Siasat sempurna tinggalkan cacat
Acung senjata tusuk ke ulu hati
Lemah terkoyak. Mati
Membekas hitam di padang perang
Biar. Biarlah. Biar membekas
Biar laut tetap biru
Tak rusak oleh darah setitik
Biar tak jadi merekah merah
AKU MATI
Karya : Zakiya
Gugur benih bersimbah darah
Mengalir perlahan namun pasti
Pedih amat terasa
Menahan nyeri seluruh raga
Aku mencoba bertahan
Menopang tambatan nyawa di badan
Namun ku goyah. Roboh
Ambruk
Bak istana pasir yang luntur oleh air
Tak bisa berlari
Tak bisa bersembunyi
Pasrah dijilat ombak biadab
Aku tak kuat Tuhan
Bukakan untukku pintu pulang
Agar bisa kurebahkan
Letih yang tertahan
Malang, 26 Januari 2011
Monday, June 9, 2014
Gerimis Kala Malam
Karya: Zakiya
Yang tak mau tergantikan rinanya
Yang tak mau tergantikan rinanya
Yang tak rela surya meninggalkannya
Samarkan pedih
Pada topeng kelabu
Mega menangis
Dalam seribu bahasa diam
Sedang tirta merayap perlahan
Pelan
Jatuh satu-satu
Ditelan tanah lebar menganga
Menelusuri kerongkongannya
Lagi mega menangis
Jemu oleh kelam malam, tak berpendar pun
Bulan berlalu
Bintang tak sudi
Gulita gegap gempita
Mega menangis dalam sepi
Samarkan pedih
Pada topeng kelabu
Mega menangis
Dalam seribu bahasa diam
Sedang tirta merayap perlahan
Pelan
Jatuh satu-satu
Ditelan tanah lebar menganga
Menelusuri kerongkongannya
Lagi mega menangis
Jemu oleh kelam malam, tak berpendar pun
Bulan berlalu
Bintang tak sudi
Gulita gegap gempita
Mega menangis dalam sepi
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)